Walaupun berbentuk 3D, Konten Virtual Reality Mampu Membuat Pengguna Merasakan 5 Emosi Ini

Di balik sensasi pertama yang Anda rasakan, pengalaman menggunakan VR boleh jadi pengalaman yang unik. VR mulai digunakan secara komersil untuk menambah keasyikan main gim. Namun, VR tak hanya mampu membuat Anda larut dalam visual VR 3D yang superkaya, tapi juga merasakan apa yang sedang Anda rasakan. Kok bisa?

Virtual Reality 3D_smarteye(dot)id_pexels

Pernahkah Anda mencoba headset VR? Apa yang Anda rasakan ketika menggunakannya pertama kali? Pusing, linglung, atau terpukau dengan dunia VR 3D yang menjadi satu dengan dunia nyata, atau malah tidak suka sama sekali. Perasaan-perasaan itu mungkin terjadi ketika Anda baru pertama menggunakan virtual reality.

Di balik sensasi pertama yang Anda rasakan, pengalaman menggunakan VR boleh jadi pengalaman yang unik. VR mulai digunakan secara komersil untuk menambah keasyikan main gim. Namun, VR tak hanya mampu membuat Anda larut dalam visual VR 3D yang superkaya, tapi juga merasakan apa yang sedang Anda rasakan. Kok bisa?

Sensor VR Mampu Menerjemahkan Ekspresi Wajah Versi VR 3D

Kemampuan VR mengadaptasi emosi manusia tak lepas dari peran sensor untuk membaca isyarat tubuh. Pernah dengar atau tidak, emosi seseorang sesungguhnya bisa dibaca dari lirikan mata, naik-turun alis, ukuran pupil mata, dan sebagainya. Adapun sensor diterapkan melalui infrared yang disembunyikan dalam headset VR. Sensor inilah yang kemudian memahami perasaan sedih, senang, atau marah dan menampilkan dalam avatar.

Dapatkan Virtual Reality & Augmented Reality Terbaik untuk Bisnis Anda
Konsultasi gratis dari Smarteye untuk kebutuhan VR dan AR Bisnis anda

November 2018, Google mematenkan sistem eye-tracking baru dalam teknologi VR yang dirancang agar mampu membaca ekspresi dan emosi seseorang. Menurut paten yang dipublikasikan Desember 2017, Google memang sedang merancang sistem untuk mengklasifikasi ekspresi wajah melalui kamera eye-tracking. Dengan kata lain, mata pengguna akan diidentifikasi oleh algoritma AI dan menginterpretasi bentuk serta pergerakan mata seseorang. Lalu, mengartikannya sebagai ekspresi yang diwakilkan avatar. Avatar ini akan berperan selayaknya cermin–kita melihat diri sendiri dalam bentuk animasi.

Headset VR MindMaze Mask membuktikan bahwa ada cara yang mudah dan murah untuk membaca ekspresi wajah meskipun tertutup headset VR. MindMaze Mask (atau Mask saja) yang diluncurkan tahun 2017 merupakan cincin elektroda yang bisa diinstal di dalam busa headset VR apa pun. Saat dikenakan, Mask mendeteksi sensor kulit yang Anda tekan kemudian mencocokkannya dengan satu dari 10 pola yang ditiru avatar. Pergerakan antara avatar dan ekspresi pengguna headset tidak akan lag berkat prediksi software.

VR 3D membaca emosi_smarteye(dot)id_sumber the verge
Ilustrasi penggunaan Mask. Foto: The Verge

 

Eye-tracking, Sistem Input VR yang Mampu Merekam Pengalaman

Menambahkan sistem eye-tracking ke dalam VR merupakan kemajuan paling mutakhir. Sistem ini memungkinkan interaksi yang lebih realistis antara pengguna dan avatar. Akan lebih canggih lagi apabila speech recognition, yang sudah lama ada dalam teknologi smartphone, digabungkan ke dalam eye tracking system untuk memberi perintah. Semisal, Anda melihat ke pintu dan berkata, “Buka” maka pintu akan terbuka.

Umumnya, seseorang yang menggunakan perangkat VR kurang ngeh kalau ia sedang dimonitor. Tidak heran, mengingat semua sistem yang dikerahkan untuk menampilkan wujud VR 3D tertanam di dalam headset VR.

Di lain sisi, menggunakan headset VR memungkinkan para periset merekam berbagai aspek yang dialami tiap-tiap orang. Hasil dari pengalaman ini disimpan oleh sistem menjadi bank data info respons emosional. Bank data ini kemudian akan dijual kembali kepada pihak ketiga untuk menciptakan alat yang akan bermanfaat bagi khalayak.

 

Rasa Takut Setelah Menonton Iklan VR

Perusahaan Unity mencoba mengukur efektivitas VR dalam periklanan. Agar memperoleh hasil lebih akurat, Unity bekerja sama dengan Marketing Intelligence Practice Isobar. Dengan dibantu Mindsight Technology rakitan sendiri, Isobar mengukur biometrik dan survei respons emosional terhadap orang-orang yang sudah menjajal trailer film melalui VR dan video mobile. Adapun iklan VR interactive dibuat untuk mendukung film horor Jigsaw produksi Lionsgate.

Tak tanggung-tanggung, biometrik pemakai VR setelah terlibat dalam iklan tersebut menunjukkan, 24% detak jantung lebih cepat, respons galvanic meningkat atau keringatan, dan aktivitas otot 3 kali meningkat terutama saat tersenyum. 

Wah, ternyata objek VR 3D bisa membuat kita merasakan bermacam sensasi ya.  

 

(Ditulis oleh Novrisa Wulandari)

Post Author: Atikah

Content, SEO and Digital Marketing officer of SmartEye.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *