Selain Meminimalisir Malpraktik, Simulasi Operasi Medis dengan VR Juga Menguntungkan dari Aspek Ini

Selama 150 tahun terakhir, model training medis tidak banyak berubah. Tipikalnya, training dilakukan melalui teori di kelas, mempelajari kadaver, mengobservasi di ruang operasi, ‘membedah’ kadaver, monitor langsung pasien, dan terakhir belajar dari YouTube. Namun kini, training dunia medis memperkenalkan kemajuan baru bernama simulator virtual reality medis.

ilustrasi medis_virtual reality medis_smarteye(dot)id_credits to pexels
Ilustrasi bedah medis

 

Profesi tenaga medis merupakan peran yang penting dalam masyarakat. Jasa dokter tak hanya menyelamatkan banyak nyawa, tapi juga menjadi solusi pertama yang dituju masyarakat ketika sakit.

Mengingat pentingnya peran dokter, tak jarang pula terjadi malapraktik yang dilakukan oknum. Malapraktik bukan sekadar soal sertifikasi dan izin praktik, melainkan juga kecerobohan yang dilakukan tenaga medis sehingga merugikan pasien.

Seorang calon dokter wajib diberi training agar ia mampu menjalani tugasnya sesuai prosedur. Malapraktik tentunya merugikan dari segi biaya dan keselamatan jiwa. Dalam hal operasi medis, kesalahan pengoperasian tentu membawa petaka bagi kedua belah pihak. Lantas, bagaimana cara meminimalisirnya?

Dapatkan Virtual Reality & Augmented Reality Terbaik untuk Bisnis Anda
Konsultasi gratis dari Smarteye untuk kebutuhan VR dan AR Bisnis anda

Training virtual reality medis mampu meminimalisir kejadian tak menguntungkan selama operasi bedah. Untuk tujuan ini, sudah diciptakan simulator khusus bagi ahli bedah.

Dilansir dari AV Magazine, sebuah simulator virtual reality khusus ahli bedah Fundamental Surgery mengkombinasikan VR dengan teknologi haptic yang lebih murah daripada harga kadaver. Simulator ini didesain untuk memberi hasil yang lebih baik terhadap pasien, mengingat biaya training medis di AS mencapai 15 miliar dolar (atau 215 triliun rupiah) per tahun.

Coba tonton video YouTube berdurasi 7 menitan berikut ini.

Simulasi pembedahan menggunakan Surgeon Simulator. Screenshot: YouTube Buzzfeed Multiplayer.

Kurang lebih, sudah video diatas sudah merangkumkan seperti apa VR training yang digunakan untuk melatih operasi medis.

Nah, agar lebih jelas, simak apa saja sih keuntungan VR training untuk operasi medis;

 

  1. Aspek Akurasi: Praktik dengan Anatomi Asli Pasien

Simulator VR mampu menduplikasi anatomi pasien dengan cara memetakan citra dan menggunakannya saat training.

Dengan struktur anatomi yang akurat, trainee ahli bedah dapat melatih teknik operasi yang sudah dipelajari sekaligus memutuskan tindakan terbaik dalam situasi operasi. Teknologi ini belum ada di rumah sakit, tapi akan datang. Pasien selamat, dokter semakin andal menghadapi prosedur kompleks secara lebih baik dan cepat.

 

  1. Aspek Kredibiltas: Minim Kesalahan Saat Operasi

Seorang ahli bedah saraf di Hospital & Health Sciences System Universitas Illinois, Ali Alaraj, MD, telah meriset dan mengembangkan VR simulasi untuk training pembedahan saraf selama satu dekade. Ia pun dilibatkan dalam pengembangan modul ImmersiveTouch, perangkat virtual reality medis.

“Inti dari virtual reality adalah untuk melatih petugas melakukan prosedur tertentu. Pada dasarnya, dalam praktik medis, petugas memahami prosedur, membantu prosedur, kemudian menjalani prosedur. Sayang, ada risiko yang mungkin ditanggung pasien,” jelas Alaraj.

Menurut Alaraj, tekanan psikologis saat melakukan prosedur bedah dapat terjadi karena kurang pengalaman dan merasa takut salah. Namun, dengan VR training, ahli bedah dapat mengulangi simulasi sampai ia mahir, tanpa ada risiko apa pun.

Pernah dengar soal alat bedah yang tertinggal di perut pasien pascaoperasi? Nah, VR bisa mencegahnya terulang lagi sehingga menjaga kredibilitas si ahli bedah dan rumah sakit tempat ia bekerja.

 

  1. Aspek Pengalaman: Larut dalam Simulasi Training

Simulator virtual reality medis Fundamental Surgery_virtual reality medis_smarteye(dot)id
Simulator virtual reality medis Fundamental Surgery. Foto: AR Magazine

 

Yang unik dari mengikuti training virtual reality medis adalah peserta merasakan sensasi multidimensional sepenuhnya. Ini berkat teknologi haptic yang menjadi salah satu komponen perangkat VR, dimana trainee seakan benar-benar merasakan sentuhan dalam simulasi.

Sebuah studi menyatakan, simulator VR training bedah mampu mencari objek kecil meskipun bidang pandang buram. Begitu pun perangkat yang digunakan dalam training, stylus (sejenis pena) dalam simulasi tampak seperti pisau bedah sungguhan. Haptic memungkinkan trainee merasakan bagaimana stylus alias pisau bedah mengiris kulit pasien, atau ketika pisau menyentuh tulang yang terasa keras. Benar-benar pengalaman yang mendebarkan sekaligus berharga.

 

  1. Aspek Biaya: Meminimalisir Budget Training

Ini merupakan keuntungan VR training di bidang mana pun. Seperti yang sudah kami singgung di atas, training medis menelan biaya hingga triliunan di Amerika Serikat saja. Sebuah angka menakjubkan yang membuat profesi dokter semakin mahal. Untunglah simulator VR untuk medis sudah mulai diciptakan. Jadi, peserta training hanya butuh perangkat sederhana, seperti headset VR dan pengendali tangan.

Simulasi virtual reality dalam dunia operasi medis memang belum menjadi kewajiban bagi siswa kedokteran dan residen. Namun, layak dicoba.

Anda pun bisa menerapkan training VR melalui 3D interactive, loh. Rasakan sendiri pengalaman unik dalam kehidupan profesional Anda.

 

(Ditulis oleh Novrisa W Wulandari)

Post Author: Atikah

Content, SEO and Digital Marketing officer of SmartEye.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *