Selama jutaan tahun, teknologi terbukti telah memberikan kemudahan pada kehidupan manusia, Mulai dari teknologi untuk transportasi, kuliner, konstruksi, hingga manufaktur. Tidak cuma memudahkan, teknologi juga mampu menyelamatkan jiwa manusia. Contohnya, berbagai teknologi baru yang bisa digunakan untuk mencegah bencana alam.

Info Penting Seputar Penggunaan Teknologi untuk Bencana Alam

Penerapan Teknologi untuk Bencana Alam yang Tak Mulus

Teknologi untuk bencana alam yang dikembangkan mampu membantu pemerintah setempat memperkirakan berbagai hal. Beberapa diantaranya seperti debit air di sungai, kadar polusi, getaran seismik yang ada di dalam bumi dan sebagainya. Namun, untuk menghadapi banjir yang terjadi dalam waktu singkat, perangkat sensor lever air kadang kurang bekerja dengan baik. Seperti yang terjadi saat hujan badai di kota Zhengzhou, Tiongkok, yang menewaskan 302 orang di bulan Juli 2021 silam.

Hingga kini, belum jelas apakah sistem tersebut gagal memperkirakan debit air, atau pemerintah setempat yang terlambat merenspon sistem peringatan. Investasi pun terus dilakukan. Meski demikian, beredar rumor bahwa teknologi untuk bencana alam tersebut cuma buang-buang uang.

Sebenarnya ada pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa di atas. Diperlukan sistem yang memungkinkan banyak pihak untuk bekerja sama dalam mengatasi kondisi darurat. “Pemerintah lokal perlu sadar bahwa menyiapkan pompa banjir, mengeringkan air, hingga menutup jalan harus terintegrasi, sehingga dampak banjir bisa dikurangi,” ungkap Dr Avi Baruch. Dr Avi Baruch sendiri merupakan co-founder Previsico, sebuah perusahaan asal Inggris yang bergerak di bidang sistem peringatan banjir.

Kini, Previsico bekerja di berbagai kota seperti London, Birmingham dan Manchester untuk memperkirakan kapan datangnya bencana banjir. Saat London terkena banjir yang cukup besar pada bulan Juli 2021 lalu, sistem peringatan live modelling milik Previsico aktif. Dengan sistem tersebut, Previsico berhasil menyediakan berbagai informasi penanggulangan dan juga ramalan cuaca yang dibutuhkan pemerintah setempat.

Masalah Konkret

Robert Muggah, seorang pakar ilmu politik dan co-founder Igarape Institute mengungkapkan bahwa masalah antisipasi bencana serta teknologi untuk bencana alam ini adalah isu urbanisasi. “Ada banyak energi dan investasi yang telah digelontorkan pada smart technology yang dapat membantu kota memitigasi dan beradaptasi pada perubahan iklim, namun semuanya masih terbatas dan belum bekerja dengan efektif,” ujar Muggah.

Kebijakan pemerintah kota justru memperburuk risiko banjir dengan menempatkan beton dan aspal untuk menghambat banjir. “Mengatasi banjir tak cuma memperkirakan tingkat penguapan serta badai, tapi juga memahami struktur lingkungan yang mereka kelola, ” tandas Muggah.

Lihat juga: Kisah Sukses 5 Industri Manufaktur yang Berhasil Terapkan AR

Belajar dari California

teknologi untuk bencana alam bisa mengurangi dampak kebakaran hutan
sumber: bbc.com

Untuk kota yang punya masalah dengan udara panas (heat), penting untuk melihat kemungkinan adanya kebakaran hutan, serta menyiapkan teknologi untuk memitigasinya. Di California, pemadam kebakaran telah menggunakan program FireGuard, yang datanya bersumber dari National Geospatial-Intelligence Agency.

Data tersebut terdiri dari data satelit dan gambar-gambar yang diambil dengan drone militer yang sudah dikumpulkan, dianalisis dan dinilai oleh para ahli Angkatan Udara dan Garda Nasional Angkatan Darat. Dari data yang diproduksi itulah, tim pemadam kebakaran dapat melihat peta yang menunjukkan lokasi titik api yang diperbarui setiap 15 menit.

Jadi, misalnya ada 100 pendaki dan wisatawan yang terjebak oleh pusaran api di Sierra National Forest in California, petugas pemadam kebakaran dapat dengan mudah menemukan mereka dan melakukan evakuasi dengan cepat.

Lihat juga: “3 Cara Augmented Reality dapat Merubah Industri Ritel”

Memetakan Lingkungan Kumuh

semua langkah antisipasi memerlukan teknologi untuk bencana alam, salah satunya adalah pemetaan
sumber: bbc.com

Jika pemerintah ingin membangun sebuah kota yang berbasis lingkungan, mereka perlu menyadari bahwa apa yang dilakukan dengan teknologi juga berpotensi menimbulkan bencana. Daerah-daerah yang terdampak bencana, bisa saja punya teknologi canggih. Tapi, tanpa pemetaan, semua upaya tersebut mustahil dilakukan. Teknologi untuk bencana alam dengan pemetaan sangat diperlukan di sini.

Profesor Carlo Ratti dan timnya di MIT Senseable City lab kemudian mengembangkan Lidar (light detection & ranging) yang dapat melakukan pemetaan. Alat deteksi dengan Lidar tersebut mampu memetakan kota Rio yang kumuh, dimana wilayah ini tidak tergambar secara detail pada peta yang ada sebelumnya. Dengan data tersebut pemerintah bisa memperkirakan keterjangkauan wilayah dan dampak yang muncul jika bencana yang terjadi.

Ingin tahu pengunaan VR AR untuk keperluan lainnya, seperti pemasaran, pendidikan hingga kesehatan? Klik di sini untuk pelajari lebih lanjut!

Dapatkan Virtual Reality & Augmented Reality Terbaik untuk Bisnis Anda

Konsultasi gratis dari Smarteye untuk kebutuhan VR dan AR Bisnis anda.

Write a Comment

Konsultasi Gratis, untuk Anda

Beragam fitur Virtual dan Augmented Reality telah kami sediakan untuk berbagai tujuan dan kebutuhan. Ketahui mana yang terbaik untuk anda secara cuma-cuma.