VR AR untuk Kesehatan, Harapan Baru dalam Layanan Tenaga Medis

VR AR untuk Kesehatan, Harapan Baru dalam Layanan Tenaga Medis

Tak cuma untuk kebanggaan dan bahan sharing di media sosial, teknologi seharusnya dapat mempermudah hidup manusia. Kehadirannya juga harus bisa memecahkan berbagai hambatan dan persoalan yang dihadapi manusia sehari-hari. Teknologi terbukti mampu menghadirkan kebaikan dalam berbagai industri seperti pendidikan, hiburan, bisnis, hingga kesehatan. 

Diantara banyaknya inovasi teknologi, Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) merupakan salah satu kecanggihan yang dapat membantu bidang kesehatan. Lalu, sejauh mana peran VR AR dalam dunia kesehatan? 

Sudah banyak negara yang sudah akrab dengan inovasi virtual reality VR dan augmented reality AR ini. Kali ini, smarteye.id akan membahas kegunaan VR AR untuk kesehatan secara lebih lanjut. Yuk, ikuti selengkapnya! 

Lihat juga: “Apa itu virtual reality?

Pelatihan Tenaga Medis

VR AR Kesehatan
Sumber: Pexels-Pixabay

Siapa sangka, kini pelatihan tenaga medis tidak perlu tatap muka. Dengan penggunaan teknologi Virtual Reality (VR), sebuah perusahaan di kota Oxford berhasil mengembangkan sistem simulasi pelatihan teknologi virtual reality medis. Simulasi virtual reality medis ini memberi kemudahan pada para calon dokter dan tenaga kesehatan lainnya. 

Selain VR, Augmented Reality juga sudah diterapkan pada dunia kesehatan. Teknologi AR yang dimaksud dapat membantu dokter memberikan semua informasi saat dokter sedang berusaha menyelamatkan nyawa pasien. Kehadiran augmented reality juga dapat meningkatkan persentase kesuksesan saat dokter bedah melakukan operasi. 

Dokter bedah senior juga dapat berkomunikasi secara efektif dengan bantuan augmented reality. Ia bisa memberikan instruksi pada para dokter lain yang hadir saat proses operasi. Tentu, semua kombinasi tersebut dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa.  

VR AR untuk kesehatan memang nyata manfaatnya. Ingin tau lebih lanjut tentang VR untuk kedokteran gigi? Klik di sini!

Merawat Kesehatan Mental

VR AR Kesehatan Mental
Foto oleh SHVETS production dari Pexels

Setelah membedah manfaat virtual reality bagi kesehatan fisik, kesehatan mental juga tidak boleh diabaikan. Apalagi dengan penerapan prokes yang ketat untuk menghindari penyebaran virus Covid-19.

Banyak orang yang depresi akibat berkurangnya ruang sosial. Apakah VR AR untuk kesehatan juga dapat menjawab persoalan kesehatan jiwa?

Ternyata ada penggunaan teknologi VR untuk mengurangi gejala depresi. Fakta ini diperkuat dengan argumen Aldrich Chan yang mengatakan citra yang dihasilkan dari VR dapat bermanfaat bagi kognitif seseorang. 

Salah satu gejala depresi yang paling sering muncul adalah Anhedonia, atau ketidakmampuan seseorang untuk merasa senang dan mencurahkan minatnya pada berbagai kegiatan. Nah, gejala ini lah yang coba diintervensi oleh para peneliti dengan pengalaman positif yang dihasilkan oleh VR.

Sebuah perusahaan startup asal Inggris yang bernama OxfordVR berhasil memanfaatkan VR untuk membantu seseorang menghadapi gangguan mental. Beberapa gangguan yang dapat dibantu seperti ketakutan akan depresi, gangguan cemas, stres pasca trauma, psikosis, atau bahkan takut ketinggian. OxfordVR mengobati gangguan mental dan ketakutan dengan memberikan terapi pengobatan yang telah ada menggunakan teknologi VR medis. 

OxfordVR Kesehatan
Foto oleh Forbes.com

Terapi ini mensimulasikan keadaan dari skenario di mana kesulitan psikologis terjadi. Hasilnya terbukti bahwa teknologi ini mampu mengurangi gejala gangguan pada pasien hingga sebesar 68%. Saat ini, OxfordVR sedang mengembangkan solusi untuk mengatasi gangguan mental kompleks lainnya. 

Penasaran dengan penerapan VR untuk atasi depresi? Baca di sini!

Mengurangi Potensi Malapraktik?

VR AR Hindari Malpraktik
Foto oleh Pranidchakan Boonrom dari Pexels

Malapraktik merupakan sesuatu yang harus dihindari dalam dunia kedokteran. Meskipun demikian, resiko adanya malapraktik tetap saja dapat terjadi suatu waktu. Kecerobohan, salah prosedur, hingga kelalaian dokter menjadi beberapa contoh malapraktik yang umumnya terjadi. 

Meski demikian, kesalahan dalam kerja ini bukan semata-mata terjadi karena kelalaian dokter saja ya. Perlu dipahami ada banyak faktor lainnya yang meyebabkan malapraktik seperti tekanan kerja dan tingkat stres di dunia medis yang cukup tinggi. 

Dengan adanya virtual reality VR dan augmented reality untuk kesehatan, diharapkan kasus malapraktik dapat dikurangi dengan signifikan. Karena teknologi ini dapat memberikan informasi secara lebih lengkap dan komprehensif. Kesalahan maupun kecerobohan pun dapat diredam. 

Diagnosis Kesehatan

Terkadang, saat melakukan proses pemeriksaan kesehatan, beberapa pasien merasa sulit untuk menggambarkan gejala mereka kepada dokter secara akurat. Kini, dengan augmented reality (AR), pasien dapat mendeskripsikan gejalanya lebih baik. Proses ini akan memudahkan dokter untuk menentukan gejala pasien dan mendiagnosisnya secara akurat.

Salah satu diagnosis yang dapat dilakukan dengan teknologi AR adalah penyakit mata. Startup Orca Health memiliki aplikasi bernama Eye Decide yang memungkinkan pasien dengan penyakit mata mensimulasikan keadaan penglihatannya. Dengan teknologi VR dan AR untuk kesehatan, pasien bisa mendeskripsikan kondisi penglihatannya kepada dokter secara lebih baik. 

Aplikasi Kesehatan Eye Decide
Foto oleh AppAdvice

Tidak hanya kondisi kesehatan mata, teknologi AR juga dapat digunakan untuk menentukan lokasi suatu organ atau cairan tubuh. Bayangkan, seorang pasien yang akan diinfus namun perawat kesulitan menemukan pembuluh darahnya, kesulitan ini kerap dijumpai ya. 

Kini, para perawat bisa menggunakan bantuan AR untuk menemukan pembuluh darah dengan lebih mudah. Bagaimana bisa? Salah satu perusahaan startup AccuVein menawarkan solusi kesehatan AR untuk memindai kulit sehingga perawat dapat menentukan di mana letak vena dengan lebih efektif dan akurat.

VR AR untuk Kesehatan di Indonesia

Di Indonesia sendiri, teknologi VR dan AR menjadi salah satu rencana jangka panjang dari transformasi digital layanan kesehatan. Chief Digital Transformation Office Kementerian Kesehatan Setiaji berencana untuk menggunakan VR AR dalam pendidikan tenaga kesehatan dan menunjang layanan health-tech, sehingga memperluas jangkauan layanan kesehatan di negara ini. 

teknologi bidang kesehatan
Foto oleh ninevibe

Kedepannya, teknologi ini diharapkan dapat mempercepat proses jasa layanan kesehatan. Terlebih semenjak adanya pandemi COVID-19, inovasi teknologi ini bisa mengurangi penyebaran virus di tanah air. 

Meski memiliki banyak manfaat, Indonesia masih dihadapi dengan berbagai tantangan saat ingin menerapkan teknologi canggih untuk bidang kesehatan. Tantangan koneksi internet serta tingkat literasi digital masyarakat menjadi hambatan tersendiri bagi Indonesia. Terlebih, umumnya penduduk dengan usia lanjutlah yang membutuhkan banyak layanan jasa kesehatan ini. 

Harapannya, dengan koneksi 5G yang meluas, akses layanan kesehatan bisa menjadi semakin tersebar luas dan dinikmati secara merata. Dengan kesadaran teknologi digital yang meningkat, masyarakat juga bisa lebih akrab dengan VR dan AR. 

Lihat juga: Penggunaan Teknologi Canggih untuk Pengobatan Diabetes, Apa Saja?


Itulah berbagai peran VR AR untuk dunia kesehatan. Sangat membantu bukan? Penerapan VR AR diharakpan akan lebih banyak menyelamatkan banyak nyawa, meningkatkan kualitas kesehatan, serta mengatasi berbagai masalah kesehatan. 

Kualitas tenaga kesehatan juga akan terus meningkat seiring dengan canggihnya perkembangan teknologi yang digunakan pada alat-alat kesehatan, khususnya dalam bidang pelatihan tenaga medis. Dengan menerapkan teknologi canggih dalam bidang kesehatan, resiko kecelakaan kerja tentu bisa diperkecil. 

Jika kamu tertarik dengan informasi seputar penerapan VR AR di kehidupan sehari-hari, mari kunjungi smarteye.id untuk info menarik lainnya! Tak hanya VR AR, ada juga berbagai artikel tentang tren teknologi terkini, metaverse, hingga informasi seputar gadget canggih yang bisa merubah hidupmu. Jangan sampai ketinggalan ya!

VR AR untuk Kesehatan, Harapan Baru dalam Layanan Tenaga Medis

Nada Syafira

Jakartans who writes in exchange for mouth-watering delicacies by weekdays. A whimsical wanders who travels by weekend.